Postingan

Tugas Mandiri 12

  Pengamatan Perilaku Konsumsi Tidak Berkelanjutan Lokasi Observasi: Minimarket A. Hasil Pengamatan (Tabel Observasi) No Perilaku Konsumsi Tidak Berkelanjutan (Deskripsi Singkat) Frekuensi Kejadian Dampak Negatif Utama 1 Konsumen membeli air mineral botol plastik kecil (330–600 ml) untuk sekali minum lalu langsung dibuang Sangat sering Penumpukan sampah plastik sekali pakai 2 Penggunaan kantong plastik meskipun jumlah barang sedikit dan bisa dibawa tangan Sangat sering Limbah plastik dan pencemaran lingkungan 3 Pembelian produk makanan/minuman dengan kemasan berlapis (plastik + sachet + karton) Sering Sulit didaur ulang, volume sampah meningkat 4 Pembelian makanan siap saji mendekati kedaluwarsa yang akhirnya tidak dihabiskan Sering Pemborosan makanan (food waste) 5 Konsumen tidak memilah sampah dan membuang semua jenis sampah ke satu tempat Sangat sering Menghambat proses daur ulang B. Analisis Penyebab (Akar Masalah) 1. Pembelian air minum kemasan sekali pakai Ini terjadi kar...

TUGAS TERSTRUKTUR 11

Gambar
  Analisis & Usulan Green Supply Chain (GSC) 1. Pendahuluan Latar Belakang Industri minuman kemasan merupakan salah satu penyumbang limbah plastik terbesar di Indonesia. Produk air mineral dalam botol plastik PET diproduksi dan dikonsumsi dalam volume sangat besar, namun sistem pengelolaan rantai pasoknya masih berorientasi linear (ambil–buat–buang). Oleh karena itu, produk ini memiliki potensi besar untuk dianalisis dan ditingkatkan melalui pendekatan Green Supply Chain Management (GSCM) . Pemilihan Produk Produk yang dianalisis adalah air mineral kemasan botol plastik PET ukuran 600 ml , karena: Digunakan secara massal. Mengandalkan plastik berbasis fosil. Memiliki tantangan besar pada fase akhir masa pakai (end-of-life). 2. Pemetaan Rantai Pasok Konvensional Tahapan Rantai Pasok Pengadaan Bahan Baku (Sourcing) Air baku dari sumber mata air. Plastik PET virgin berasal dari industri petrokimia. Produksi/Manufaktur Proses pembuatan preform, ...

TUGAS TERSTRUKTUR 10

Analisis Kasus Implementasi Produksi Berkelanjutan A. Profil Perusahaan dan Latar Belakang Nama Perusahaan: PT Unilever Indonesia Tbk Sektor Industri: Manufaktur Fast Moving Consumer Goods (FMCG) Produk Utama: Produk perawatan pribadi, rumah tangga, dan pangan (Lifebuoy, Rinso, Sunsilk, Sunlight, dll). Unilever Indonesia mengadopsi konsep Produksi Berkelanjutan sebagai bagian dari strategi global Unilever Sustainable Living Plan (USLP) . Motivasi utama penerapan keberlanjutan tidak hanya didorong oleh kepatuhan regulasi, tetapi juga oleh tekanan konsumen, efisiensi biaya jangka panjang, serta penguatan citra merek di tengah meningkatnya kesadaran lingkungan. B. Strategi Keberlanjutan yang Digunakan 1. Penerapan Ekonomi Sirkular (Circular Economy) Unilever menerapkan desain kemasan yang dapat didaur ulang, pengurangan plastik murni (virgin plastic), serta pengembangan refill pack dan kemasan berbasis plastik daur ulang (PCR). Strategi ini selaras dengan konsep Sustainable...

TUGAS TERSTRUKTUR 09

  Analisis Desain Produk dengan Prinsip Design for Environment (DfE) Periode: 20–26 November 2025 Kelompok: (Ali Haidar) (Mahardika Dwi Atmaja) (M. Rayhan Ibrahimovich) 1. Pemilihan Produk Produk yang dianalisis adalah charger smartphone (kepala charger USB) yang umum digunakan untuk mengisi daya ponsel. Produk ini mudah ditemukan, digunakan setiap hari, dan memiliki siklus hidup yang relatif singkat akibat perkembangan teknologi dan kerusakan fisik. 2. Analisis Desain Awal Fungsi Utama Mengubah arus listrik AC menjadi DC untuk mengisi daya baterai smartphone. Material yang Digunakan Casing: Plastik ABS Komponen internal: Tembaga (kumparan) Aluminium (heat sink) Timah solder Papan PCB (fiberglass + resin epoksi) Karakteristik Desain Ukuran kecil dan ringkas Bentuk monoblok (tertutup rapat) Warna putih atau hitam (dominan) Tidak dirancang untuk dibongkar oleh pengguna Catatan penting: desain ringkas ini nyaman bagi pengguna, tapi b...

TUGAS TERSTRUKTUR 07

  Penilaian Dampak Lingkungan Berdasarkan Hasil LCI Produk yang Dianalisis Baterai lithium-ion pada smartphone (kapasitas ±4000 mAh) Identifikasi dan Analisis Kategori Dampak Lingkungan (LCIA) Tabel Analisis Dampak Lingkungan Kategori Dampak Data Input Terkait (LCI) Potensi Dampak Lingkungan Global Warming Potential (GWP) Konsumsi listrik ±45–60 kWh selama proses produksi baterai; penggunaan energi fosil pada pengisian dan manufaktur Emisi CO₂ dari pembangkit listrik berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global. Produksi baterai lithium-ion dikenal sebagai salah satu tahapan dengan jejak karbon tinggi dalam siklus hidup smartphone. Human Toxicity Penggunaan bahan kimia seperti lithium hexafluorophosphate (LiPF₆), kobalt, nikel; limbah proses manufaktur Paparan bahan beracun berpotensi membahayakan kesehatan pekerja dan lingkungan sekitar jika limbah tidak dikelola dengan baik. Risiko meningkat pada tahap produksi dan pembuangan baterai akhir masa pakai. Resource Depletion ...

Tugas Mandiri 12

  Mengamati Perilaku Konsumsi Tidak Berkelanjutan Lokasi Pengamatan: Kantin Kampus Pendahuluan Singkat Pengamatan ini dilakukan untuk mengidentifikasi perilaku konsumsi tidak berkelanjutan yang sering terjadi di lingkungan kampus. Kantin kampus dipilih karena menjadi pusat aktivitas konsumsi harian mahasiswa, terutama pada jam makan siang, sehingga pola konsumsi dan dampaknya terhadap lingkungan dapat diamati secara langsung dan nyata. Pengamatan dilakukan selama kurang lebih 45 menit pada jam makan siang , dengan fokus pada interaksi konsumen terhadap makanan, minuman, dan kemasan yang digunakan. No Perilaku Konsumsi Tidak Berkelanjutan (Deskripsi Singkat) Frekuensi Kejadian Dampak Negatif Utama 1 Mahasiswa membeli air mineral botol plastik kecil untuk sekali minum lalu langsung dibuang Sangat Sering Penumpukan sampah plastik sekali pakai 2 Penggunaan kantong plastik berlapis (kantong + plastik makanan + sedotan) untuk pesanan makan di tempat Sering Pemborosan plastik dan suli...

Tugas Mandiri 11

Gambar
Pemetaan Potensi Alur Balik Produk (Reverse Logistics) Studi Kasus: Baterai Smartphone Bekas di Indonesia Pendahuluan (Pemilihan Produk dan Alasan) Produk yang dianalisis dalam tugas ini adalah baterai smartphone bekas (Lithium-ion) . Produk ini dipilih karena memiliki tingkat konsumsi tinggi , umur pakai relatif pendek , serta mengandung material bernilai sekaligus berbahaya bagi lingkungan jika tidak dikelola dengan benar. Di Indonesia, penggunaan smartphone sangat masif, namun sistem pengelolaan baterai bekas masih bersifat sporadis dan belum terintegrasi dalam sistem Reverse Logistics (RL) yang formal. Hal ini menjadikan baterai smartphone sebagai contoh ideal untuk menganalisis potensi pengembangan alur balik produk. Kondisi Saat Ini A. Alur Maju (Forward Flow) Alur distribusi baterai smartphone secara umum adalah sebagai berikut: Produsen baterai → Produsen smartphone → Distributor nasional → Ritel (toko fisik/online) → Konsumen Dalam sistem ini, baterai diperlakukan s...